Resensi Berawal huruf S
S

Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi (Penulis), Aunur Rafiq Shaleh (Penj), Robbani Press (Telp. 87780250), Rabi‘ul Awwal 1425 H/Mei 2004 M, xvii + 513 halaman.

Pentingnya Mengkaji Sirah Nabi

Bagi umat Islam, kepercayaan dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad jelas merupakan sesuatu yang inheren dalam dirinya dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Persoalannya adalah, bagaimana kita bisa mendudukkan beliau sebagai tokoh identifikasi dan tipe ideal yang terus memandu dan memberi nafas dalam kehidupan kita. Itulah yang coba kita usahakan sedikit demi sedikit dalam kehidupan kita. Kita ingin merealisasikan ayat: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (al-Ahzab [33]: 21).

Agar kita bisa memperoleh gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang sosok Nabi ini, tentu saja kita harus merujuk pada sejarah dan narasi kehidupan beliau. Maka di sinilah pentingnya kita mengkaji dan mempelajari sirah nabawiyah. Bahkan studi tentang sejarah Nabi bukan hanya terdiri dari rangkaian tahun demi tahun, atau peristiwa demi peristiwa yang dialami oleh seorang Nabi, tapi sasaran kajian sirah Nabi juga adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran yang sempurna tentang hakikat Islam, yang tercermin dalam kehidupan Nabi. Karena sumber sirah nabawiyah itu sendiri adalah Kitabullah (al-Qur'an), sunnah nabawiyah yang suci, dan kitab-kitab sirah.

Setidaknya ada lima sasaran yang bisa kita tuju dengan mengkaji sirah nabawiyah. Pertama, memahami pribadi kenabian Rasulullah saw. melalui celah-celah kehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah dihadapinya, untuk menegaskan bahwa Rasulullah bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya.

Kedua, agar manusia mendapatkan gambaran al-matsal al-‘ala (tipe ideal) menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupan. Ketiga, agar manusia mendapatkan sesuatu yang dapat membantunya dalam memahami Kitab Allah dan semangat tujuannya. Karena banyak ayat al-Qur'an yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi Rasulullah.

Keempat, melalui kajian sirah nabawiyah ini seorang Muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsaqafah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut aqidah, hukum, maupun akhlak. Dan sasaran kelima, agar setiap pembina dan da‘i Islam memiliki “contoh hidup” menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Adalah Rasulullah saw. seorang da'i, pemberi nasihat dan pembina yang baik. Yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan dan pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya.

Untuk memenuhi lima sasaran tersebut, maka buku Sirah Nabawiyah karya Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi ini kiranya cukup memadai untuk dijadikan sebagai pegangan utama dalam mengkaji sejarah hidup Nabi. Buku yang ditelorkan oleh ulama asal Syria ini terdiri dari enam bagian utama, ditambah dengan bagian penutup.

Bagian pertama, merangkum bahasan tentang pentingnya sirah nabawiyah untuk memahami Islam, sumber-sumber sirah nabawiyah, rahasia Jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam, Muhammad penutup para Nabi dan hubungan dakwahnya dengan dakwah-dakwah samawiyah terdahulu, juga bahasan tentang jahiliyah dan sisa-sisa hanifiyah.

Bagian kedua, membedah sejarah Nabi yang terbentang sejak kelahiran hingga kenabian. Bagian ketiga, dari kenabian hingga hijrah. Bagian keempat, ulasan tentang asas masyarakat baru. Bagian kelima berkisah tentang periode perang membela diri. Bagian keenam, bahasan berkisar seputar Fathu Makkah—periode baru dalam dakwah. Sementara bagian penutup menyajikan paparan tentang sebagian sifat Nabi dan keutamaan ziarah ke masjid dan kuburannya.

Dengan paparannya yang luas itu, buku ini berguna bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai Muslim dan cinta terhadap Rasulnya, entah pelajar, mahasiswa, da'i, politisi, petani, seniman, militer, pebisnis, presiden, dan siapa pun yang menyandang dirinya Muslim. Karena Sa'id Ramadhan al-Buthi berhasil melukiskan seluruh kisi kehidupan Nabi yang mencakup semua aspek sosial dan kemanusiaan yang ada pada manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat yang aktif.

Bagi seorang da'i misalnya, karya ini mungkin bisa menjadi cermin dan pegangan dari tugas dakwahnya yang terus diperjuangkannya. Setidaknya dia bisa menangkap ibrah, sampai pada tahap mana dakwah yang dijalaninya. Sementara bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin, mestinya dia bisa belajar dari proses perjuangan Nabi hingga terbentuknya masyarakat baru yang mencengangkan dunia.

Problema disintegrasi yang dihadapi bangsa ini adalah bagian dari tugas berat yang dihadapi oleh calon presiden nanti. Masalah krusial ini tentu saja harus diselesaikan, maka seyogianya dia bisa belajar dari Nabi, yang piawai sekali dalam menanamkan nilai-nilai persaudaraan. Suku Aus dan Khazraj yang tadinya rentan terhadap perpecahan dan pertumpahan darah, berhasil “dijinakkan” oleh Nabi. Para pemimpin bangsa ini juga harusnya mau belajar dari kegemilangan Rasulullah dalam mempersaudarakan para sahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar, yang kemudian menjadi salah satu pilar kekuatan Islam dalam menghadapi segala tantangan dan benturan dakwah Islam. (Makmun Nawawi).

101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah , Hepi Andi Bastoni (Penulis), Dendi Irfan (Peny.), Robbani Press, Cet I, Muharram 1425 H/Maret 2004 M, xxiii+596 hlm.

Narasi Kehidupan Shahabiyah

Di tengah carut marut kehidupan yang makin materialistis dan hedonistis, orang makin beringas dalam memburu materi. Semua peluang dikejar dan masa bodoh dengan rambu-rambu halal-haram. Semua lini bisnis dilirik dan tak peduli dengan batasan-batasan syar‘i. Semua komoditas dieksploitasi dan tak soal dengan apa itu nilai fitri insani, lebih-lebih pekik nurani.

Dan tahukah kita kalau ternyata wanita juga telah menjadi bagian dari komoditas itu. Anda boleh risau dengan sinyalemen semacam itu, tapi fakta membuktikan bahwa wanita telah dieksploitasi sedemikian rupa sehingga mencoreng moreng nilai-nilai luhur yang dipunyainya. Beragam berita di media massa dan tayangan kelabu yang ditampilkan oleh banyak stasiun teve, sudah cukup gamblang membicarakan keterpurukan itu.

Dalam kondisi seperti ini, anak-anak (bangsa) menjadi kehilangan tokoh ibu yang bisa dijadikan pujaan dan kebanggaan. Mereka tidak dapat mereguk sentuhan belaian kasih seorang ibu yang meniupkan nilai-nilai kesejatian dan kepahlawanan. Hidup pun terasa begitu gersang.

Maka di sinilah arti penting yang bisa diambil dari buku 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah , karya Hepi Andi Bastoni, wartawan majalah Sabili ini. Dari 101 wanita shahabiyah yang dipaparkannya, Hepi Andi memberikan inspirasi yang segar sekali perihal karya besar dan spektakuler yang mungkin bisa ditelorkan oleh kaum hawa masa kini.

Sebagai alumni madrasah Rasulullah, narasi kehidupan para wanita teladan di masa Rasulullah itu sarat sekali dengan keteladanan, kebajikan, keikhlasan, kepahlawanan, kesetiaan, kesabaran, kepeloporan, kepatuhan, kezuhudan, keindahan, kecerdasan, kesahajaan, persaudaraan, dan nilai-nilai luhur rabbaniyah lainnya.

Bila semua itu nyaris punah dari para wanita modern, justru pesan inilah yang bergema dari karya yang tergolong langka ini—karena buku ini berasal dari naskah asli dan bukan hasil terjemahan.

Ketika wanita Muslimah modern disergap oleh berbagai macam budaya yang destruktif dan glamor, mereka perlu banyak memetik pelajaran dari kisah hidup para Ummahatul-Mukminat. Misalnya mereka bisa belajar tentang kesahajaan dari Fathimah radhiyallahu ‘anha . Kehidupan putri Rasulullah yang agung ini sungguh dibalut dengan kesederhanaan.

Ketika menikahkan Fathimah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya sehelai kain beludru, sebuah bantal yang sudah kecoklatan (lusuh) di mana kapuknya sudah mulai bertebaran, dua alat penumbuk, satu tempat air, dan dua kendi. Maka tangannya (Fathimah) membekas karena sering menumbuk, pundaknya pun membekas karena sering menjinjing air dengan kendi, bajunya selalu berdebu karena sering menyapu, bahkan tampak kotor karena sering dipakai untuk memasak.

Fathimah adalah satu-satunya keluarga Nabi yang paling dicintai beliau. Rasululah bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku. Apa yang membahagiakanku, membahagiakannya juga, dan apa yang menyakitiku menyakitinya juga.”

Bila gemerlap dunia modern dengan segenap eksesnya telah menyergap seluruh sendi kehidupan kita, dan tak urung melempar kita ke dalam sebuah kubang yang jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan menggerus kemuliaan kita. Maka kita perlu kembali kepada sumber ‘izzah dan kekuatan kita, yaitu dengan merujuk kepada sirah para pendahulu kita, para sahabat dan shahabiyah radhiyallahu ‘anhum . Karena di dunia ini tidak ada sirah yang paling menawan, paling banyak memberikan limpahan pelajaran dan lautan hikmah, selain sirah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , sirah para sahabat dan shahabiyah radhiyallahu ‘anhum .

Untuk memenuhi kebutuhan itulah, buku ini bisa menjadi alternatif yang paling tepat sekali. Karena selain disajikan dengan bahasa yang deras mengalir, buku yang dihasilkan oleh penulis muda yang berbakat ini juga menampung banyak tokoh shahabiyah. Bahkan jika dibandingkan dengan sejumlah buku berbahasa Arab pun, karya ini memuat tokoh yang jauh lebih banyak.

Ahmad Khalil Jum‘ah dalam karyanya Banatush-Shahabah misalnya, hanya menampilkan sekitar sepuluh shahabiyah. Dalam karyanya yang lain, Nisa'un Mubasysyarat bil-Jannah , Ahmad Khalil Jum‘ah juga hanya mengangkat 20 shahabiyah. Sementara Ilyah Mushthafa Mubarak memang menyajikan cukup banyak tokoh dalam karyanya Shahabiyat Mujahidat , namun jumlahnya hanya mencapai 61 tokoh saja. Demikian pula Abdul Aziz asy-Syannawi, ia hanya menampilkan sembilan wanita dalam bukunya Ummahatush-Shahabah . Karena itu, buku ini tergolong relatif lengkap jika dibandingkan dengan buku-buku yang bertema sejenis, hatta buku berbahasa Arab sekalipun.

Maka sayang sekali jika Anda tidak ikut menyimak buku bagus tentang biografi dan kisah hidup para wanita teladan pada era Rasulullah ini. Aroma nubuwwah yang memang berhembus cukup syahdu di bilik-bilik rumah mereka, digambarkan dengan jernih sekali oleh penulis buku ini. (Makmun Nawawi).

________________


Mereka adalah para alumni madrasah Rasulullah yang hidup dengan terhormat, atau gugur di jalan Allah dengan penuh kemuliaan. Lalu mewariskan kemuliaan tersebut dari generasi ke generasi sehingga mereka mampu menguasai dunia, baik di bidang pemikiran, kepemimpinan, maupun peradaban. Dengan keimanan mereka, mereka bangun benteng cahaya dan mereka kokohkan pilar-pilar istiqamah. Mereka sangat paham sekali akan arti kehidupan dan kewajiban mereka dalam meninggikan kalimat Allah dan menolong dien-Nya.

Sedemikian tingginya komitmen mereka terhadap agama dan kukuhnya akidah mereka, maka sangat pantas kalau Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan jalan-jalan kebaikan, pintu-pintu kesuksesan, dan rambu-rambu keutamaan untuk mereka, serta dikaruniai keridhaan-Nya pula—sebagaimana yang diabadikan dalam al-Qur'an:

“Para as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang terdahulu dan yang pertama masuk Islam) di kalangan kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (at-Taubah [9]: 100).

Beragam anugerah itu tentu saja tidak serta merta datang, melainkan hasil dari perjuangan yang panjang dan melelahkan, berliku-liku dan berdarah-darah. Berbagai keutamaan itu juga bukan hanya monopoli kaum pria (sahabat), namun kaum wanita ( shahabiyah ) pun punya peluang yang sama untuk meraihnya.

Bila sebagian sahabat ada yang dikabari masuk sorga—misalnya, beberapa shahabiyah pun dianugerahi berita gembira yang sama dari Rasulullah. Ahmad Khalil Jum‘ah malah menyusun satu buku khusus yang mengurai tentang wanita-wanita yang memperoleh berita gembira masuk sorga. Nisa'un Mubasysyaratun bil-Jannah , demikian judul buku itu.

Ada 20 shahabiyah yang diangkat buku itu, yang juga direkonstruksi dengan apik dan lancar oleh Hepi Andi Bastoni dalam buku yang tengah Anda simak ini. Bila Anda digayuti pertanyaan “Amal apa yang dilakukan oleh para shahabiyah itu sehingga mereka memperoleh berita besar seperti itu?” Maka Anda harus membaca buku 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah ini hingga tuntas. Insya Allah Anda akan memperoleh paparan yang memikat tentang biografi dan sepak terjang mereka.

Selain kedua puluh shahabiyah tersebut, masih banyak wanita teladan lainnya yang mengukir sejarah hidupnya dengan tinta emas. Dan buku ini merekam sebagian darinya dengan jeli. Aroma nubuwah yang memang berhembus cukup kencang di bilik-bilik rumah mereka, digambarkan dengan jernih sekali oleh penulis muda yang berbakat ini. Narasi kehidupan mereka sarat dengan keteladanan, kebajikan, keikhlasan, kepahlawanan, kesetiaan, kesabaran, kepeloporan, kepatuhan, kezuhudan, keindahan, kecerdasan, kesahajaan, persaudaraan, dan nilai-nilai luhur rabbaniyah lainnya dari kaum wanita. Suatu hal yang nyaris punah dari para wanita modern.

Harus diakui, buku semacam ini yang lahir dalam bahasa asli kita sangat jarang. Maka di samping turut mengisi kekosongan tersebut, moga karya ini bisa mengilhami dan mencerahkan kaum wanita masa kini. Lalu tergerak untuk meneladani para Ummahatul-Mu'minat dan shahabiyat yang ada di dalamnya , yang menjadi wanita-wanita teladan di masa Rasulullah dan terus dikenang sepanjang zaman.